Halo beauties! ๐ธ
Aku Dini — cewek biasa yang dulu cuma suka mainan lip tint dan eyeshadow di depan kaca, tapi sekarang mulai menapaki perjalanan sebagai seorang Makeup Artist (MUA).
Siapa sangka, hobi kecil waktu SMP bisa jadi langkah awal menuju impian besar? Yuk, aku ceritain perjalananku dari awal sampai sekarang ๐
๐ Dari Lulus SMA, Aku Memilih Jalan yang Beda
Waktu lulus SMA, banyak teman-temanku langsung fokus daftar kuliah di berbagai jurusan.
Sementara aku… sempat bingung. Aku tahu aku pengin kuliah, tapi di sisi lain aku juga punya ketertarikan besar sama dunia kecantikan.
Makeup bukan cuma soal “dandan”, tapi seni yang bisa bikin seseorang lebih percaya diri dan bahagia. Dari situlah aku mulai yakin: aku mau belajar makeup secara serius.
๐ Mulai Ikut Private Class Makeup
Langkah pertama yang aku ambil adalah mengikuti private class makeup.
Awalnya deg-degan banget — takut dibilang “cuma main-main”, tapi ternyata dunia ini luas dan indah banget!
Di private class itu, aku belajar dasar-dasar makeup mulai dari mengenal jenis kulit, pemilihan foundation, blending eyeshadow, sampai teknik makeup untuk acara wisuda dan pesta.
Bahkan aku juga belajar etika profesional sebagai MUA: bagaimana berkomunikasi dengan klien, menjaga kebersihan alat, dan membangun kepercayaan diri.
๐ก Dari situ aku sadar, jadi MUA bukan cuma soal bisa makeup, tapi juga soal membangun karakter dan kepribadian profesional.
๐ผ Pertama Kali Jadi MUA Pemula
Setelah selesai private class, aku memberanikan diri untuk menerima klien pertamaku — sepupuku sendiri untuk makeup event di sekolahnya.
Tangan gemetar? Banget ๐
Tapi begitu lihat hasil akhirnya dan senyum di wajahnya, aku merasa puas banget.
Dari situ aku mulai beranikan diri ambil job — makeup-in wisuda, lamaran, bridesmaid, carnaval dan photoshoot.
Setiap hasil makeup jadi pengalaman berharga, dan aku terus belajar memperbaiki teknikku sedikit demi sedikit.
๐ Menyambi Kuliah, Menjalani Dua Dunia Sekaligus
Sekarang aku kuliah sambil tetap bekerja sebagai MUA pemula.
Jujur, capek itu pasti. Kadang habis makeup-in klien pagi-pagi, langsung lanjut kelas sore hari. Tapi aku selalu ingat: semua ini bagian dari proses menuju mimpi.
Kuliah memberiku ilmu dan kedisiplinan, sedangkan makeup memberiku ruang untuk berekspresi dan berkreasi.
๐ซ Dua dunia ini justru saling melengkapi — aku belajar manajemen waktu, komunikasi, dan tanggung jawab, yang semuanya penting juga dalam karirku kedepannya.
๐ท Belajar, Berkarya, dan Berkembang
Sebagai MUA pemula, aku sadar jalanku masih panjang. Tapi aku percaya, selama aku mau terus belajar dan menjaga niat baik, hasilnya pasti indah.
Aku mulai membangun branding “Nadana Makeup Artist” — bukan sekadar nama, tapi simbol dari semangatku untuk membantu orang lain merasa cantik dan percaya diri lewat sentuhan makeup.
Aku ingin setiap klien yang duduk di kursiku bukan cuma merasa cantik secara fisik, tapi juga nyaman dan percaya diri dengan dirinya sendiri. ❤️
✨ Penutup: Dari Mimpi Kecil Jadi Langkah Besar
Perjalanan ini masih jauh dari kata selesai.
Tapi setiap foundation yang aku oles, setiap kuas yang aku putar, selalu jadi pengingat: dulu aku cuma cewek yang suka makeup untuk iseng terus foto-foto— dan sekarang aku benar-benar menjalaninya sebagai karier dan passion.
Setiap orang punya cara unik untuk menemukan jalannya sendiri. Bagiku, makeup bukan sekadar alat untuk mempercantik wajah, tapi juga medium untuk menyalurkan cinta, kreativitas, dan rezeki. Jadi apapun hobimu, cintai sepenuh hati, tekuni dengan sabar, dan percayalah bahwa apa yang kamu sukai bisa menjadi pintu menuju masa depan yang kamu impikan. — Nadana Makeup ๐

Komentar
Posting Komentar